Palangka Raya, 17 September 2026 – Kualitas udara di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, masih berada pada kategori berbahaya akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan yang menyelimuti wilayah tersebut. Kondisi udara yang kerap digambarkan masyarakat sebagai kategori hitam itu menunjukkan tingginya konsentrasi polutan yang berpotensi membahayakan kesehatan apabila terhirup dalam waktu lama. Pemantauan Indeks Standar Pencemar Udara dalam beberapa hari terakhir memperlihatkan kualitas udara belum kembali ke kondisi aman. Pemerintah daerah terus memantau konsentrasi partikulat, terutama PM2.5 dan PM10 yang menjadi salah satu indikator utama pencemaran akibat asap karhutla. Kabut asap juga menyebabkan jarak pandang menurun pada waktu tertentu sehingga berdampak terhadap aktivitas masyarakat. Kondisi tersebut membuat warga kembali diminta mengurangi kegiatan di luar ruangan selama kualitas udara masih buruk.
Kondisi paling serius sempat tercatat ketika indeks kualitas udara dari stasiun darat di Palangka Raya mencapai angka 903 pada 13 September. Pada periode sebelumnya, nilai ISPU bahkan sempat menyentuh sekitar 960 sehingga berada jauh di atas batas kategori berbahaya. Tingginya konsentrasi partikulat tersebut berkaitan dengan meningkatnya kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah Kalimantan Tengah. Asap dari titik-titik kebakaran dapat terbawa menuju kawasan perkotaan sebelum bertahan di lapisan udara dekat permukaan. Situasi semakin berat ketika kecepatan angin rendah sehingga sirkulasi udara tidak mampu menyebarkan polutan secara cepat. Akibatnya, partikel asap dapat terakumulasi dan menyebabkan kualitas udara memburuk dalam waktu relatif singkat.
Kabut asap juga berdampak terhadap jarak pandang di kawasan Bandara Tjilik Riwut Palangka Raya. Dalam pemantauan pada 13 September, jarak pandang sempat tercatat hanya sekitar 300 meter ketika asap berada dalam kondisi tebal. Penurunan jarak pandang menjadi salah satu dampak langsung karhutla selain meningkatnya risiko gangguan kesehatan masyarakat. Kondisi tersebut membutuhkan kewaspadaan terutama bagi sektor transportasi darat maupun penerbangan yang sangat bergantung pada visibilitas. Perubahan ketebalan asap dapat berlangsung cepat mengikuti arah angin, kondisi atmosfer dan perkembangan kebakaran di lapangan. Pemerintah bersama instansi terkait karena itu terus melakukan pemantauan untuk mengantisipasi kemungkinan gangguan yang lebih luas.
Dampak memburuknya kualitas udara juga dirasakan sektor pendidikan di Palangka Raya. Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya kembali memperpanjang pelaksanaan pembelajaran jarak jauh bagi peserta didik jenjang PAUD, SD hingga SMP pada 17 sampai 19 September 2026. Kebijakan tersebut diambil setelah hasil pemantauan kualitas udara pada 14, 15 dan 16 September menunjukkan ISPU masih berada pada kategori berbahaya. Pembelajaran dari rumah dipilih untuk mengurangi paparan kabut asap terhadap anak-anak yang termasuk kelompok rentan terhadap pencemaran udara. Sekolah diminta tetap memastikan kegiatan belajar mengajar berjalan meskipun peserta didik tidak hadir secara langsung di ruang kelas. Kebijakan pembelajaran akan kembali dievaluasi berdasarkan perkembangan kualitas udara dalam beberapa hari berikutnya.
Ancaman kesehatan menjadi perhatian utama karena asap karhutla mengandung partikulat berukuran sangat kecil yang dapat masuk jauh ke dalam sistem pernapasan. PM2.5 memiliki diameter kurang dari 2,5 mikrometer sehingga dapat mencapai bagian dalam paru-paru ketika terhirup. Paparan dalam konsentrasi tinggi dapat memicu iritasi mata dan tenggorokan, batuk, sesak napas serta memperburuk gangguan pernapasan yang sudah dimiliki seseorang. Anak-anak, lanjut usia, ibu hamil serta masyarakat dengan penyakit jantung atau paru-paru menjadi kelompok yang membutuhkan perlindungan lebih besar. Data pelayanan kesehatan sebelumnya juga menunjukkan munculnya kunjungan pasien dengan keluhan infeksi saluran pernapasan akut ketika kualitas udara memburuk. Masyarakat karena itu dianjurkan membatasi paparan langsung terhadap udara luar selama kondisi berbahaya masih berlangsung.
Karhutla di Kalimantan Tengah menjadi faktor utama di balik memburuknya kondisi atmosfer Palangka Raya dan sejumlah daerah lainnya. Ribuan deteksi titik panas tercatat di berbagai wilayah provinsi tersebut selama periode peningkatan kebakaran. Di wilayah Palangka Raya sendiri, titik panas tersebar di beberapa kecamatan seperti Bukit Batu, Sabangau, Jekan Raya, Rakumpit dan Pahandut. Tidak seluruh titik panas secara otomatis menunjukkan kebakaran aktif, tetapi jumlah yang tinggi menjadi indikator penting dalam pemantauan potensi karhutla. Petugas gabungan terus melakukan pemadaman darat sekaligus pengawasan terhadap kawasan yang berpotensi mengalami kebakaran baru. Lahan gambut menjadi salah satu tantangan karena api dapat menjalar di bawah permukaan dan kembali muncul meskipun bagian atas terlihat telah padam.
Kondisi atmosfer turut menentukan seberapa lama kabut asap bertahan di kawasan perkotaan. Ketika angin bergerak lemah, asap yang berasal dari kebakaran di sekitar Palangka Raya maupun wilayah lain cenderung tertahan dan terakumulasi dekat permukaan. Sebaliknya, peningkatan kecepatan angin dapat membantu menyebarkan polutan, meskipun pada kondisi tertentu juga dapat membawa asap dari lokasi kebakaran lain. Curah hujan menjadi faktor penting karena dapat membantu menurunkan konsentrasi partikulat sekaligus membasahi lahan yang rentan terbakar. Pemerintah daerah bersama instansi penanggulangan bencana terus memantau prakiraan cuaca untuk mendukung strategi penanganan karhutla. Upaya pemadaman juga perlu dilakukan secara konsisten agar sumber asap dapat ditekan dan kualitas udara secara bertahap kembali membaik.
Selama kualitas udara masih berada pada kategori berbahaya, masyarakat Palangka Raya diminta menyesuaikan aktivitas dengan kondisi lingkungan. Penggunaan masker dengan kemampuan menyaring partikulat dianjurkan bagi warga yang terpaksa beraktivitas di luar ruangan, sementara kegiatan fisik berat di ruang terbuka sebaiknya dibatasi. Warga juga perlu mengikuti informasi ISPU secara berkala karena tingkat pencemaran dapat berubah dari satu waktu ke waktu lainnya. Pemerintah akan terus mengevaluasi kebijakan pendidikan serta langkah perlindungan masyarakat berdasarkan hasil pemantauan kualitas udara. Penanganan titik api tetap menjadi prioritas karena perbaikan kualitas udara sangat bergantung pada berkurangnya sumber asap karhutla. Kondisi Palangka Raya dalam beberapa hari berikutnya akan ditentukan oleh efektivitas pemadaman, perkembangan cuaca serta kemampuan menekan munculnya kebakaran baru.






