Jakarta, 18 September 2026 – Video Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya ketika mendampingi Presiden Prabowo Subianto menjajal LRT Jakarta rute Kelapa Gading–Manggarai menjadi perbincangan di media sosial. Dalam potongan rekaman yang beredar, Teddy terlihat meminta sejumlah orang, termasuk jajaran direksi dan pejabat terkait, berpindah dari area gerbong yang ditempati Presiden. Rekaman singkat tersebut kemudian memunculkan narasi bahwa Teddy mengusir sejumlah pejabat LRT dari gerbong. Namun, konteks yang disampaikan setelah video ramai menunjukkan pengaturan posisi itu dilakukan untuk menyediakan ruang bagi penumpang penyandang disabilitas pengguna kursi roda agar dapat berada lebih dekat dengan Presiden. Peristiwa tersebut terjadi ketika Prabowo menjajal LRT Jakarta sebelum meresmikan operasional rute Kelapa Gading–Manggarai pada Rabu, 16 September 2026. Dalam perjalanan itu, Presiden memang berada dalam satu rangkaian bersama pelajar dan kelompok penyandang disabilitas.
Klarifikasi mengenai kejadian tersebut salah satunya disampaikan melalui akun media sosial yang membahas aktivitas Sekretaris Kabinet. Penjelasan itu menyebut narasi bahwa Teddy mengusir Direktur Utama LRT maupun sejumlah pejabat lainnya tidak menggambarkan kejadian secara utuh. Teddy disebut sedang mengatur area gerbong agar pengguna kursi roda yang berada di bagian belakang mempunyai jalan untuk maju. Tujuannya agar mereka dapat berada lebih dekat dan mempunyai kesempatan berbincang langsung dengan Presiden Prabowo. Pengaturan posisi sejumlah orang di gerbong kemudian terlihat berbeda ketika hanya bagian tertentu dari rekaman yang tersebar di media sosial. Klarifikasi juga menyebut Teddy ikut mendampingi para penyandang disabilitas tersebut hingga turun dari LRT.
Direktur Utama PT Jakarta Propertindo Iwan Takwin, yang ikut berada dalam perjalanan tersebut, juga memberikan penjelasan mengenai video yang ramai diperbincangkan. Iwan membantah dirinya diusir oleh Teddy dari gerbong Presiden. Menurut keterangannya, ia hanya diminta berpindah ke gerbong belakang karena area yang ditempati Prabowo sudah penuh. Pernyataan tersebut memberikan konteks tambahan terhadap gestur Teddy yang terlihat dalam potongan video. Dengan demikian, perpindahan sejumlah orang tidak disebut Iwan sebagai tindakan pengusiran terhadap dirinya. Peristiwa tersebut berlangsung dalam situasi ketika banyak orang berada di dalam rangkaian yang sama untuk mengikuti perjalanan sekaligus rangkaian peresmian LRT Jakarta.
Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion Dedi Kurnia Syah menilai tindakan Teddy lebih tepat dipahami sebagai pengaturan situasional daripada pengusiran terhadap pejabat LRT. Menurut Dedi, Teddy ketika itu berinisiatif mengatur posisi orang-orang di sekitar Presiden sehingga tersedia ruang bagi Prabowo dan salah seorang penumpang penyandang disabilitas. Ia membedakan tindakan tersebut dengan pelaksanaan kewenangan formal Teddy sebagai Sekretaris Kabinet. Menurutnya, pengaturan kecil yang terjadi dalam perjalanan merupakan respons terhadap kondisi saat itu karena Teddy berada bersama Presiden. Dedi juga menilai sulit memahami kejadian tersebut sebagai upaya mengusir pejabat LRT mengingat agenda Presiden ketika itu justru berkaitan langsung dengan peresmian layanan LRT Jakarta. Penilaiannya tersebut merupakan interpretasi terhadap konteks peristiwa, bukan penetapan formal mengenai kewenangan Sekretaris Kabinet.
Pengamat komunikasi politik Hendri Satrio turut mengingatkan agar masyarakat melihat rekaman tersebut secara utuh sebelum menarik kesimpulan. Menurutnya, potongan video pendek di media sosial dapat membuat sebuah peristiwa kehilangan konteks yang diperlukan untuk memahami kejadian sebenarnya. Dalam rekaman yang lebih dahulu beredar, masyarakat terutama melihat Teddy meminta jajaran direksi LRT, pejabat perkeretaapian, dan pihak lain untuk berpindah posisi. Tujuan perpindahan tersebut tidak terlihat secara jelas apabila hanya menyaksikan potongan tertentu. Setelah muncul penjelasan bahwa terdapat penumpang penyandang disabilitas yang akan diberikan ruang lebih dekat dengan Presiden dan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, konteks peristiwa menjadi lebih lengkap. Hendri karena itu menekankan pentingnya kehati-hatian ketika memahami informasi dari video singkat yang beredar di media sosial.
Perjalanan tersebut merupakan bagian dari agenda Presiden Prabowo menjajal LRT Jakarta rute Kelapa Gading–Manggarai sebelum meresmikan pengoperasiannya. Presiden menaiki LRT bersama Pramono Anung serta sejumlah pejabat pemerintah. Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Teddy Indra Wijaya, Kepala Staf Kepresidenan Dudung Abdurachman, dan jajaran pengelola transportasi turut hadir dalam rangkaian acara. Sejumlah siswa SMP dan kelompok penyandang disabilitas juga ikut menjajal layanan transportasi tersebut bersama Presiden. Keberadaan kelompok disabilitas inilah yang kemudian menjadi bagian penting dalam penjelasan mengenai pengaturan posisi di dalam gerbong. Prabowo juga terlihat berinteraksi dengan penumpang selama perjalanan menuju Manggarai.
LRT Jakarta yang dijajal Presiden memiliki rute Kelapa Gading–Manggarai dengan panjang sekitar 12,2 kilometer dan melayani 11 stasiun. Rute tersebut merupakan pengembangan layanan transportasi massal Jakarta yang menghubungkan kawasan Kelapa Gading dengan Manggarai melalui sejumlah kawasan di Jakarta Timur dan Jakarta Pusat. Sebelas stasiun yang dilalui terdiri atas Kelapa Gading, Boulevard Utara, Boulevard Selatan, Pulomas, Equestrian, Velodrome, Rawamangun, Pramuka, Matraman, Proklamasi, dan Manggarai. Nilai investasi pembangunan rute tersebut disebut mencapai sekitar Rp12,1 triliun. Setelah perjalanan menggunakan LRT selesai, Prabowo meresmikan pengoperasian jalur tersebut di Stasiun Manggarai. Peresmian menjadi bagian dari pengembangan integrasi transportasi publik di Jakarta.
Sorotan terhadap video Teddy memperlihatkan bagaimana potongan rekaman dapat menghasilkan interpretasi berbeda ketika konteks sebelum dan sesudah kejadian tidak ikut ditampilkan. Gestur meminta sejumlah orang berpindah tempat sempat dipahami sebagian pengguna media sosial sebagai tindakan mengusir. Namun, Iwan Takwin menyatakan dirinya tidak diusir dan hanya diminta pindah karena gerbong Presiden penuh. Penjelasan lain menyebut perpindahan tersebut sekaligus memberikan ruang agar pengguna kursi roda dapat maju dan berinteraksi lebih dekat dengan Prabowo. Dua keterangan tersebut memberikan konteks yang tidak seluruhnya terlihat dalam potongan video yang lebih dahulu beredar. Karena itu, klaim mengenai adanya pengusiran perlu dibedakan dari keterangan pihak yang berada langsung dalam perjalanan tersebut.
Dedi Kurnia Syah juga menyoroti kemungkinan munculnya kesalahpahaman karena publik hanya melihat tindakan yang tampak di permukaan. Menurutnya, masyarakat tidak selalu mengetahui alasan operasional di balik tindakan seseorang yang terekam dalam video singkat. Dalam kasus tersebut, cara Teddy mengatur posisi sejumlah orang dapat memunculkan penafsiran berbeda tanpa mengetahui keberadaan penumpang penyandang disabilitas yang membutuhkan ruang. Dedi menilai tindakan itu bersifat momentum dan situasional, bukan disposisi ataupun tindakan formal dalam kapasitas jabatan Sekretaris Kabinet. Pandangan tersebut sejalan dengan penjelasan bahwa fokus pengaturan saat itu adalah komposisi orang di sekitar Presiden selama perjalanan. Meski demikian, perbedaan penilaian publik terhadap cara komunikasi atau gestur Teddy tetap merupakan bagian dari respons masyarakat terhadap rekaman yang mereka saksikan.
Viralnya rekaman tersebut pada akhirnya menjadi contoh pentingnya melihat konteks lengkap sebuah peristiwa sebelum membentuk kesimpulan. Video memang memperlihatkan Teddy meminta sejumlah orang berpindah posisi ketika Presiden berada di dalam gerbong LRT, tetapi penjelasan berikutnya menyatakan perpindahan itu dilakukan untuk menata ruang dan memberikan akses kepada penumpang penyandang disabilitas. Direktur Utama Jakpro Iwan Takwin juga membantah dirinya diusir dan menjelaskan perpindahan dilakukan karena gerbong Presiden sudah penuh. Perjalanan itu sendiri merupakan bagian dari agenda peresmian LRT Jakarta Kelapa Gading–Manggarai yang turut diikuti pelajar dan kelompok disabilitas. Perbedaan antara potongan video yang beredar dengan konteks keseluruhan kemudian menjadi perhatian sejumlah pengamat. Mereka mengingatkan bahwa video singkat di media sosial perlu dilihat bersama informasi pendukung agar peristiwa tidak dipahami hanya berdasarkan sebagian adegan.




