Jakarta, 4 September 2026 – Keinginan generasi muda memiliki rumah masih menghadapi sejumlah tantangan, salah satunya status finansial yang dinilai belum memenuhi persyaratan untuk memperoleh Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dari perbankan. Persoalan tersebut tidak hanya dialami Gen Z, tetapi juga pekerja sektor informal, wirausahawan, hingga masyarakat yang pernah memiliki catatan kredit kurang baik. Sekitar 60 persen angkatan kerja berada di sektor informal, sementara riwayat pinjaman daring juga dapat membebani profil keuangan sebagian calon pembeli rumah. Kondisi tersebut membuat seseorang yang sebenarnya memiliki kemampuan membayar belum tentu langsung dianggap layak mendapatkan pembiayaan bank. Di tengah backlog perumahan nasional yang masih mencapai jutaan unit, persoalan kelayakan kredit menjadi salah satu hambatan yang perlu dijembatani. Strategi memperbaiki profil finansial sebelum mengajukan KPR pun mulai menjadi alternatif bagi calon pembeli yang belum bankable.
Salah satu pendekatan yang diperkenalkan adalah PraKPR dengan mekanisme rent-to-own atau sewa-beli. Skema tersebut dirancang untuk memberikan waktu kepada calon pembeli memperbaiki kondisi finansial sebelum mengajukan pembiayaan kepada bank. Calon konsumen tidak langsung diposisikan sebagai pemohon KPR yang harus memenuhi seluruh persyaratan sejak awal, tetapi terlebih dahulu menjalani proses persiapan agar profil keuangannya semakin memenuhi kriteria. Selama periode tersebut, berbagai aspek yang menjadi hambatan dapat diidentifikasi sehingga calon pembeli mengetahui bagian mana yang harus diperbaiki. Pendekatan seperti ini terutama relevan bagi generasi muda yang baru memasuki dunia kerja dan belum mempunyai rekam finansial panjang. Dengan persiapan yang lebih terarah, status belum layak KPR tidak selalu berarti kesempatan memiliki rumah tertutup sepenuhnya.
Co-Founder dan CEO MilikiRumah Winston Lee menjelaskan PraKPR ditujukan untuk mendampingi calon pembeli memperbaiki profil keuangan hingga memiliki peluang lebih besar memperoleh persetujuan KPR. Menurutnya, kelompok yang belum bankable tetap berpotensi menjadi pemilik rumah apabila menjalani proses persiapan yang tepat. Kondisi finansial seseorang juga dapat berubah seiring perbaikan pendapatan, pengelolaan utang, serta pembentukan rekam pembayaran yang lebih baik. Karena itu, penolakan KPR pada satu periode tidak harus dipandang sebagai kondisi permanen. Calon pembeli dapat terlebih dahulu memahami penyebab pengajuan berpotensi ditolak sebelum kembali memasuki proses perbankan. Pendampingan tersebut diharapkan membuat masyarakat tidak berulang kali mengajukan pembiayaan tanpa mengetahui masalah yang terdapat pada profil finansial mereka.
Bagi Gen Z, salah satu strategi penting sebelum mengajukan KPR adalah membangun kondisi keuangan yang dapat menunjukkan kemampuan membayar secara konsisten. Penghasilan menjadi bagian penting, tetapi bank juga mempertimbangkan kewajiban finansial yang telah dimiliki calon debitur. Cicilan konsumtif, pinjaman daring, kartu kredit, maupun kewajiban lainnya dapat mengurangi kapasitas seseorang untuk membayar cicilan rumah setiap bulan. Karena itu, calon pembeli perlu mengetahui keseluruhan kewajiban yang sedang berjalan dan mulai menguranginya apabila terlalu membebani pendapatan. Kedisiplinan melakukan pembayaran tepat waktu juga penting karena riwayat kredit menjadi bagian dari penilaian lembaga keuangan. Semakin sehat kondisi keuangan, semakin besar kesempatan calon debitur memenuhi penilaian kelayakan pembiayaan.
Riwayat pinjaman daring menjadi salah satu persoalan yang perlu mendapatkan perhatian khusus. Penggunaan pinjaman tidak otomatis membuat seseorang kehilangan kesempatan mendapatkan KPR, tetapi tunggakan dan pola utang yang tidak sehat dapat memengaruhi penilaian terhadap kemampuan membayar. Calon pembeli rumah karena itu perlu menyelesaikan kewajiban bermasalah terlebih dahulu sebelum mengajukan pembiayaan jangka panjang. Rumah merupakan komitmen finansial yang dapat berlangsung belasan hingga puluhan tahun sehingga bank membutuhkan keyakinan bahwa debitur mampu menjaga pembayaran secara berkelanjutan. Mengurangi utang konsumtif juga memberikan ruang lebih besar dalam arus kas bulanan. Dana yang sebelumnya digunakan membayar berbagai cicilan dapat dialihkan untuk menyiapkan uang muka, biaya transaksi, dana darurat, dan kebutuhan kepemilikan rumah lainnya.
Persoalan berbeda dihadapi pekerja informal maupun wirausahawan karena mereka tidak selalu mempunyai slip gaji tetap seperti pekerja formal. Penghasilan yang berubah setiap bulan dapat membuat proses pembuktian kemampuan finansial menjadi lebih kompleks. Karena itu, pencatatan transaksi dan pendapatan secara teratur menjadi salah satu hal yang dapat dipersiapkan sejak dini. Rekening yang digunakan secara konsisten untuk menerima pendapatan juga membantu membentuk dokumentasi arus kas yang lebih jelas. Calon pembeli perlu membedakan keuangan pribadi dan usaha apabila menjalankan bisnis sehingga kondisi finansial dapat terlihat secara lebih transparan. Persiapan dokumen yang rapi dapat membantu calon debitur menunjukkan bahwa penghasilan tidak tetap bukan berarti mereka tidak mempunyai kemampuan membayar cicilan.
Teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) juga mulai digunakan untuk membantu proses pemetaan calon konsumen. Chief Commercial Officer MilikiRumah Faizal Abdullah menyebut modul profiling konsumen berbasis AI telah digunakan di lebih dari 200 proyek perumahan. Teknologi tersebut digunakan untuk membantu memahami kualitas permintaan dan menyaring calon pembeli berdasarkan karakteristik finansial mereka. Bagi pengembang, pemetaan dapat membantu menentukan konsumen yang siap bertransaksi maupun mereka yang masih membutuhkan proses persiapan. Pendekatan tersebut berbeda dari model penjualan yang hanya mengelompokkan calon pembeli menjadi diterima atau ditolak. Konsumen yang belum memenuhi persyaratan dapat diarahkan menuju langkah tertentu untuk meningkatkan peluang memperoleh pembiayaan pada tahap berikutnya.
Pengalaman pekerja muda berusia 22 tahun, Keiza Evelyn, menjadi salah satu gambaran mengenai proses tersebut. Keiza berhasil memperoleh KPR untuk rumah bernilai lebih dari Rp600 juta di Darmawangsa Residence, Bekasi, setelah sebelumnya merasa kondisi finansialnya belum cukup ideal untuk memiliki hunian. Melalui proses PraKPR, ia mendapatkan arahan mengenai bagian keuangan yang perlu diperbaiki sebelum dinilai siap mengajukan pembiayaan. Kesempatan menempati rumah selama proses tersebut juga menjadi motivasi baginya untuk mencapai target kepemilikan. Pengalaman itu memperlihatkan pentingnya mengetahui posisi finansial secara objektif sebelum mengajukan kredit. Namun kemampuan setiap orang tetap berbeda sehingga nilai rumah dan besarnya cicilan perlu disesuaikan dengan kondisi keuangan masing-masing.
Selain memperbaiki riwayat kredit, Gen Z perlu menentukan harga rumah secara realistis berdasarkan kemampuan finansial. Keinginan memiliki rumah pertama sebaiknya tidak membuat calon pembeli mengambil cicilan terlalu besar hingga mengorbankan kebutuhan pokok maupun kemampuan menyiapkan dana darurat. Biaya kepemilikan rumah juga tidak berhenti pada cicilan KPR karena terdapat kebutuhan lain seperti perawatan, utilitas, pajak, dan berbagai biaya transaksi. Karena itu, simulasi keuangan perlu dilakukan sebelum memilih properti agar calon pembeli mengetahui konsekuensi jangka panjang dari keputusan tersebut. Menyiapkan tabungan sejak awal juga memberikan fleksibilitas lebih besar ketika membutuhkan uang muka maupun biaya tambahan. Rumah pertama tidak harus langsung memenuhi seluruh keinginan apabila kemampuan finansial belum memungkinkan.
Status belum layak KPR pada akhirnya dapat dipandang sebagai kondisi yang masih dapat diperbaiki, bukan keputusan permanen bahwa seseorang tidak mampu mempunyai rumah. Gen Z dapat memulai dengan memeriksa kondisi kredit, menyelesaikan tunggakan, mengurangi cicilan konsumtif, membangun rekam pembayaran yang baik, mendokumentasikan pendapatan, serta menyiapkan tabungan secara konsisten. Skema seperti PraKPR menawarkan pendekatan tambahan bagi calon pembeli yang membutuhkan waktu untuk memperbaiki profil finansial sebelum memasuki pembiayaan bank. Namun keputusan akhir persetujuan KPR tetap berada pada bank berdasarkan penilaian kelayakan dan ketentuan yang berlaku. Persiapan sejak dini menjadi langkah penting agar calon pembeli tidak sekadar mengejar kepemilikan rumah, tetapi juga mampu mempertahankan kewajiban pembayarannya dalam jangka panjang. Dengan strategi keuangan yang disiplin dan pemilihan hunian sesuai kemampuan, peluang generasi muda untuk memiliki rumah tetap terbuka meskipun pada awalnya belum memenuhi kriteria KPR.





