Tangerang Selatan, 9 September 2026 – Pemerintah Kota Tangerang Selatan meningkatkan kewaspadaan terhadap gangguan saluran pernapasan di tengah kondisi udara yang terdampak abu vulkanik Gunung Anak Krakatau dan musim kemarau. Dinas Kesehatan mencatat ribuan kasus infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA sepanjang tahun ini, sementara pemerintah daerah terus memantau kemungkinan perubahan tren setelah abu vulkanik mencapai wilayah Tangerang Selatan. Kelompok rentan seperti anak-anak, lanjut usia, serta masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan sebelumnya diminta mengurangi aktivitas di luar rumah apabila tidak memiliki kepentingan mendesak. Penggunaan masker juga sangat dianjurkan ketika masyarakat harus beraktivitas di ruang terbuka. Pemerintah mengingatkan bahwa partikel abu vulkanik berbeda dengan debu biasa dan dapat menimbulkan iritasi pada saluran pernapasan, mata maupun kulit. Meski kewaspadaan ditingkatkan, masyarakat diminta tetap tenang dan mengikuti perkembangan kondisi udara serta informasi kesehatan dari pemerintah.
Dinas Kesehatan Tangerang Selatan mencatat sebanyak 4.844 kasus ISPA melalui pemantauan hingga pekan ke-34 tahun 2026. Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Tangsel Fitria Oriza menjelaskan angka tersebut merupakan jumlah kumulatif sejak 1 Januari hingga akhir pekan ke-34, sehingga tidak dapat langsung dikaitkan seluruhnya dengan paparan abu vulkanik. Berdasarkan pemantauan pada awal pekan ini, Dinas Kesehatan juga belum menemukan peningkatan signifikan kasus ISPA yang secara khusus terjadi setelah sebaran abu Gunung Anak Krakatau. Jumlah kasus masih berada pada pola yang relatif serupa dengan minggu-minggu sebelumnya. ISPA sendiri dapat dipengaruhi banyak faktor, mulai dari infeksi virus, alergi, kualitas udara hingga kondisi lingkungan. Karena itu, pemerintah memilih terus memantau perkembangan kasus sebelum menyimpulkan adanya hubungan langsung antara perubahan jumlah pasien dengan erupsi.
Data mengenai kasus ISPA di Tangerang Selatan juga perlu dibaca berdasarkan metode dan periode pencatatannya karena terdapat angka berbeda yang muncul dalam pemantauan kesehatan sepanjang 2026. Pada Agustus lalu, Dinas Kesehatan pernah mencatat jumlah kasus ISPA yang jauh lebih besar dalam sistem pemantauan dengan cakupan dan klasifikasi pencatatan berbeda di tengah cuaca panas serta musim kemarau. Kondisi tersebut menunjukkan angka kesehatan tidak dapat dibandingkan begitu saja tanpa melihat periode, definisi kasus dan sistem pelaporannya. Pemerintah saat ini lebih menaruh perhatian pada perubahan tren setelah paparan abu vulkanik terjadi, bukan sekadar membandingkan angka kumulatif. Apabila kunjungan pasien dengan gangguan pernapasan meningkat secara konsisten setelah kejadian tersebut, evaluasi epidemiologis dapat dilakukan lebih mendalam. Langkah itu penting agar kebijakan kesehatan tidak dibangun berdasarkan kesimpulan yang terlalu cepat.
Kewaspadaan meningkat setelah aktivitas Gunung Anak Krakatau menyebabkan abu vulkanik terbawa angin ke sejumlah wilayah Banten dan kawasan penyangga Jakarta. Partikel abu yang sangat halus dapat terhirup dan masuk ke saluran pernapasan ketika seseorang berada di luar ruangan tanpa perlindungan memadai. Wakil Wali Kota Tangerang Selatan Pilar Saga Ichsan mengingatkan abu vulkanik dapat mengandung silika sehingga paparannya tidak boleh dianggap sama dengan debu jalanan biasa. Masyarakat yang harus keluar rumah diminta menggunakan masker untuk mengurangi jumlah partikel yang terhirup. Perlindungan tersebut menjadi semakin penting bagi anak-anak, lansia dan orang dengan penyakit pernapasan karena mereka dapat lebih mudah mengalami keluhan ketika kualitas udara memburuk. Pemerintah juga mengingatkan masyarakat segera memeriksakan diri apabila mengalami batuk berat, sesak napas, iritasi mata atau keluhan lain yang tidak kunjung membaik.
Anak-anak menjadi salah satu kelompok yang mendapatkan perhatian khusus karena aktivitas sekolah dapat membuat mereka berada di luar rumah dalam waktu cukup lama. Kondisi tersebut menjadi salah satu pertimbangan pemerintah ketika menerapkan pembelajaran jarak jauh sebagai langkah pencegahan selama paparan abu masih menjadi perhatian. Kebijakan itu bukan berarti telah ditemukan lonjakan besar ISPA pada peserta didik, melainkan bertujuan mengurangi kemungkinan paparan sebelum muncul peningkatan gangguan kesehatan. Pada Rabu sore, Pemkot Tangsel bahkan membuka kemungkinan mengakhiri PJJ karena arah sebaran abu tidak lagi menuju wilayah tersebut dan kualitas udara terpantau relatif aman. Wali Kota Tangerang Selatan Benyamin Davnie menyebut indeks kualitas udara saat itu berada di kisaran 65 dan laporan Dinas Kesehatan hingga sore belum menunjukkan lonjakan ISPA. Keputusan mengenai kegiatan sekolah tetap mempertimbangkan kondisi aktual sehingga dapat berubah mengikuti perkembangan kualitas udara.
Selain anak-anak, lansia dan masyarakat dengan riwayat asma maupun penyakit pernapasan lainnya perlu memberikan perhatian lebih terhadap paparan partikel di udara. Kelompok tersebut dianjurkan berada di dalam rumah ketika konsentrasi debu atau abu terlihat meningkat dan menutup pintu serta jendela apabila kondisi di luar memburuk. Masker dengan kemampuan filtrasi tinggi seperti N95 dapat digunakan ketika tersedia, sementara masker medis tetap dapat menjadi perlindungan tambahan apabila masyarakat tidak mempunyai pilihan tersebut. Penggunaan kacamata juga dapat membantu mengurangi risiko abu masuk ke mata. Apabila partikel sudah mengenai mata, masyarakat dianjurkan membilasnya menggunakan air bersih dan tidak mengucek karena gesekan partikel dapat memperburuk iritasi. Setelah beraktivitas di luar rumah, wajah, tangan dan bagian tubuh yang terkena abu juga sebaiknya segera dibersihkan.
Pemerintah Kota Tangerang Selatan telah melakukan sejumlah langkah untuk mengurangi paparan masyarakat terhadap material yang mengendap di lingkungan. Sekitar 14 ribu masker telah dibagikan kepada masyarakat, sementara penyiraman dilakukan di sejumlah jalan protokol dan kawasan yang menjadi pusat aktivitas warga. Penyemprotan bertujuan membuat material halus yang berada di permukaan jalan tidak mudah kembali beterbangan ketika terkena angin atau dilalui kendaraan. Upaya serupa dilakukan di beberapa koridor jalan pada malam hingga dini hari agar proses pembersihan tidak terlalu mengganggu lalu lintas. Pemerintah juga meminta masyarakat berhati-hati ketika membersihkan abu yang menempel di halaman maupun bagian rumah. Membersihkan material dalam kondisi terlalu kering dapat membuat partikel kembali beterbangan sehingga meningkatkan risiko terhirup.
Warga yang mengalami gangguan kesehatan juga didorong memanfaatkan layanan pemeriksaan di puskesmas yang tersebar di Tangerang Selatan. Pemerintah menyediakan layanan cek kesehatan yang dapat digunakan masyarakat apabila mengalami keluhan setelah terpapar abu, termasuk gangguan pernapasan, iritasi mata maupun iritasi kulit. Pemeriksaan diperlukan terutama apabila keluhan semakin berat atau tidak membaik setelah paparan dihentikan. Dinas Kesehatan ingin mencegah gangguan ringan berkembang menjadi infeksi atau komplikasi yang lebih serius seperti pneumonia pada kelompok tertentu. Pada saat yang sama, data kunjungan fasilitas kesehatan akan membantu pemerintah mengetahui apakah benar terjadi perubahan pola penyakit setelah paparan abu vulkanik. Pemantauan tersebut akan terus dilakukan meskipun kondisi udara secara visual mulai terlihat membaik.
Masyarakat juga diminta tidak mengabaikan faktor lain yang dapat memperburuk kualitas udara. Pembakaran sampah di lingkungan permukiman sebaiknya dihentikan karena asap yang dihasilkan dapat menambah konsentrasi partikel dan memberikan beban tambahan terhadap saluran pernapasan. Kondisi musim kemarau sebelumnya juga telah membuat pemerintah meningkatkan kewaspadaan terhadap kualitas udara, dehidrasi dan berbagai gangguan kesehatan akibat cuaca panas. Kombinasi polusi perkotaan, debu, cuaca kering dan abu vulkanik dapat memberikan efek berbeda pada setiap orang tergantung kondisi kesehatannya. Karena itu, menjaga kecukupan cairan, menggunakan masker, mengurangi paparan langsung serta menjaga kebersihan lingkungan menjadi langkah sederhana yang dapat dilakukan masyarakat. Orang tua juga diminta memperhatikan kondisi anak setelah beraktivitas di luar rumah, terutama apabila muncul batuk, mata merah atau kesulitan bernapas.
Pemkot Tangerang Selatan menegaskan perkembangan kasus ISPA dan kualitas udara akan terus menjadi dasar dalam menentukan langkah berikutnya. Meskipun angka ribuan kasus telah tercatat sepanjang tahun, pemerintah mengingatkan masyarakat agar tidak langsung menyimpulkan seluruh kasus tersebut merupakan akibat erupsi Gunung Anak Krakatau karena ISPA memiliki banyak penyebab. Hal yang menjadi fokus saat ini adalah mencegah paparan tambahan dan memastikan tidak terjadi peningkatan signifikan setelah abu vulkanik mencapai wilayah Tangerang Selatan. Kelompok rentan tetap dianjurkan membatasi aktivitas di luar rumah selama kondisi udara belum sepenuhnya stabil, sedangkan masyarakat yang harus keluar diminta menggunakan perlindungan yang memadai. Pemerintah juga akan melanjutkan pembersihan lingkungan, pembagian masker serta pemantauan fasilitas kesehatan untuk mendeteksi perubahan sedini mungkin. Dengan langkah pencegahan tersebut, risiko gangguan kesehatan diharapkan dapat ditekan sembari menunggu kondisi udara dan aktivitas masyarakat kembali sepenuhnya normal.






