Jakarta, 8 September 2026 – PT Krakatau Steel (Persero) Tbk melakukan perombakan jajaran direksi dan komisaris sebagai bagian dari kelanjutan transformasi perusahaan baja milik negara tersebut. Melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang digelar pada Senin, 7 September 2026, pemegang saham menetapkan Willgo Zainar sebagai Direktur Utama Krakatau Steel. Willgo menggantikan Muhammad Akbar Djohan yang sebelumnya memimpin emiten berkode saham KRAS tersebut. Perubahan juga dilakukan pada posisi Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko serta jajaran komisaris. Manajemen baru diharapkan dapat mempercepat restrukturisasi sekaligus memperkuat kinerja operasional dan daya saing Krakatau Steel.
Willgo bukan sosok baru di lingkungan Krakatau Steel karena sebelumnya menjabat sebagai Komisaris Independen perseroan sejak 16 Desember 2024. Dengan keputusan RUPSLB terbaru, Willgo berpindah dari fungsi pengawasan menjadi pemimpin eksekutif yang bertanggung jawab langsung terhadap operasional dan strategi perusahaan. Pengalaman tersebut membuatnya telah mengenal kondisi serta proses transformasi yang sedang dijalankan Krakatau Steel. Sebelum bergabung dengan KRAS, Willgo juga memiliki pengalaman di lingkungan BUMN melalui PT PAL Indonesia. Ia pernah menduduki posisi Direktur Pemasaran dan dipercaya menjadi Pelaksana Tugas Direktur Utama perusahaan industri pertahanan tersebut.
Selain mengganti Direktur Utama, RUPSLB melakukan perubahan pada posisi Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko. Thomas Christian ditetapkan menempati jabatan tersebut menggantikan Daniel Fitzgerald Liman. Sementara tiga posisi direksi lainnya tetap dipertahankan sehingga tidak seluruh jajaran eksekutif mengalami pergantian. Sidik Darusulistyo tetap dipercaya sebagai Direktur Infrastruktur dan Operasi, Hernowo menjabat Direktur Komersial, Pengembangan Usaha dan Portofolio, sedangkan Suryantoro Waluyo tetap berada di posisi Direktur Sumber Daya Manusia. Komposisi tersebut diharapkan dapat menjaga kesinambungan program perusahaan di tengah perubahan kepemimpinan.
Perubahan juga terjadi pada Dewan Komisaris Krakatau Steel dengan masuknya Didik Hariyanto sebagai Komisaris Independen. Setelah RUPSLB, Hendro Martowardojo tetap menempati posisi Komisaris Utama, sedangkan David Pajung dan Didik Hariyanto menjadi Komisaris Independen. Dua posisi komisaris lainnya ditempati Setia Diarta dan Adityo Haryo Bimo. Dengan demikian, Krakatau Steel kini memiliki lima anggota direksi dan lima anggota Dewan Komisaris. Komposisi baru tersebut akan mengawal perusahaan dalam melanjutkan agenda restrukturisasi dan transformasi yang telah berlangsung dalam beberapa tahun terakhir.
Pergantian manajemen berlangsung ketika Krakatau Steel sedang berupaya memperbaiki fundamental bisnis dan meningkatkan utilisasi fasilitas produksinya. Dukungan pendanaan modal kerja menjadi salah satu faktor yang membantu perusahaan meningkatkan aktivitas produksi sepanjang semester pertama 2026. Tambahan ruang modal kerja memungkinkan perusahaan menjaga ketersediaan bahan baku sekaligus mengoptimalkan fasilitas produksi yang dimiliki. Perbaikan struktur pendanaan juga menjadi bagian penting dari transformasi karena beban finansial sebelumnya memberikan tekanan besar terhadap kinerja perusahaan. Kondisi tersebut membuat manajemen baru menghadapi tugas untuk menjaga momentum pemulihan yang mulai terbentuk.
Dari sisi penjualan, Krakatau Steel mencatat volume penjualan baja sebesar 614,26 ribu ton sepanjang semester pertama 2026. Jumlah tersebut meningkat sekitar 30,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan volume menunjukkan aktivitas bisnis perusahaan mulai bergerak lebih kuat seiring membaiknya kemampuan menyediakan bahan baku dan menjalankan fasilitas produksi. Krakatau Steel juga berupaya memperbesar kontribusinya dalam memenuhi kebutuhan baja nasional yang masih memiliki ruang pertumbuhan besar. Peningkatan penjualan menjadi salah satu indikator yang akan terus diperhatikan di bawah kepemimpinan Willgo.
Kenaikan volume penjualan turut menopang pendapatan Krakatau Steel yang mencapai sekitar 622,7 juta dolar AS atau setara sekitar Rp11,15 triliun pada semester pertama 2026. Dari sisi operasional, perusahaan mencatat laba bruto sebesar 67,9 juta dolar AS. Nilai laba bruto tersebut meningkat sekitar dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Perbaikan itu menunjukkan restrukturisasi mulai memberikan dampak terhadap kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan dari kegiatan operasionalnya. Namun, konsistensi kinerja tetap diperlukan agar pemulihan tidak hanya bergantung pada kondisi tertentu dalam satu periode.
Krakatau Steel juga membukukan laba periode berjalan sekitar 10,9 juta dolar AS pada semester pertama tahun ini. Kinerja tersebut turut dipengaruhi sejumlah faktor nonoperasional, termasuk penyelesaian kewajiban dipercepat dengan keringanan atas utang restrukturisasi dan pendapatan dari divestasi entitas asosiasi. Selain itu, terdapat pengaruh bagian rugi dari entitas asosiasi, beban keuangan, selisih kurs, serta sejumlah komponen nonoperasional lainnya. Kondisi tersebut menunjukkan proses restrukturisasi keuangan masih menjadi bagian penting dalam perjalanan pemulihan KRAS. Manajemen baru perlu memastikan perbaikan operasional dapat semakin besar memberikan kontribusi terhadap profitabilitas perusahaan dalam jangka panjang.
Tantangan lain bagi kepemimpinan baru adalah menjaga daya saing industri baja nasional di tengah ketatnya persaingan dengan produk impor. Krakatau Steel perlu meningkatkan efisiensi produksi sekaligus memastikan produknya mampu memenuhi kebutuhan berbagai sektor seperti konstruksi, otomotif, manufaktur, energi, dan infrastruktur. Utilisasi fasilitas produksi yang semakin tinggi dapat membantu menekan biaya tetap per unit apabila dibarengi permintaan yang memadai. Di sisi lain, perusahaan juga harus menjaga disiplin keuangan setelah menjalani proses restrukturisasi utang yang panjang. Keseimbangan antara ekspansi penjualan dan kesehatan keuangan akan menjadi salah satu pekerjaan utama manajemen.
Willgo membawa pengalaman dari lingkungan korporasi sekaligus parlemen sebelum dipercaya memimpin Krakatau Steel. Ia pernah menjadi anggota DPR RI periode 2014–2019 dan bertugas di Komisi XI yang membidangi keuangan, perbankan, dan sejumlah lembaga ekonomi. Willgo juga pernah menjadi Wakil Ketua Badan Akuntabilitas Keuangan Negara DPR RI. Setelah menyelesaikan masa tugasnya di parlemen, ia menjalani sejumlah peran di lingkungan perusahaan negara sebelum kemudian masuk ke Krakatau Steel sebagai Komisaris Independen. Pengalaman tersebut kini akan diuji dalam memimpin langsung salah satu perusahaan strategis dalam industri baja nasional.
Perombakan direksi dan komisaris menandai fase baru transformasi Krakatau Steel setelah perusahaan menunjukkan perbaikan penjualan dan kinerja sepanjang paruh pertama 2026. Manajemen menargetkan proses transformasi dapat terus dilanjutkan untuk membangun perusahaan yang lebih tangguh, efisien, kompetitif, dan berkelanjutan. Willgo Zainar bersama jajaran direksi baru menghadapi tantangan mempertahankan pertumbuhan penjualan sekaligus memperkuat profitabilitas dari bisnis inti perusahaan. Restrukturisasi keuangan, peningkatan utilisasi produksi, pengamanan pasokan bahan baku, dan penguatan pasar domestik akan menjadi bagian penting dari agenda tersebut. Perubahan kepemimpinan diharapkan menjadi momentum untuk mempercepat pemulihan KRAS sekaligus memperkuat perannya dalam memenuhi kebutuhan baja nasional.




