Kendal, 31 Juli 2026 – Badan Usaha Milik Desa atau BUMDes Sriwulan di Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, menunjukkan potensi besar ekonomi desa melalui pengembangan destinasi wisata dengan harga tiket yang terjangkau. Meski pengunjung cukup membayar tiket masuk Rp2.000, pengelolaan berbagai potensi usaha desa mampu mendorong pendapatan BUMDes hingga mencapai Rp5,96 miliar. Capaian tersebut memperlihatkan bahwa wisata murah tidak selalu identik dengan nilai ekonomi yang kecil apabila dikelola bersama unit usaha yang produktif. Tingginya aktivitas pengunjung dapat menciptakan perputaran ekonomi yang melibatkan masyarakat, pedagang, serta berbagai layanan pendukung. Model pengelolaan tersebut sekaligus menjadi contoh bagaimana aset desa dapat dikembangkan menjadi sumber pendapatan berkelanjutan.
Harga tiket Rp2.000 menjadi salah satu daya tarik karena memungkinkan destinasi dikunjungi berbagai lapisan masyarakat. Strategi tarif terjangkau dapat meningkatkan jumlah kunjungan sekaligus memperluas manfaat ekonomi di sekitar kawasan wisata. Pengunjung yang datang tidak hanya mengeluarkan biaya untuk tiket, tetapi juga dapat membeli makanan, menggunakan fasilitas, berbelanja produk lokal, atau memanfaatkan layanan lain yang tersedia. Dengan demikian, nilai ekonomi setiap kunjungan tidak hanya dihitung berdasarkan penerimaan dari pintu masuk. Perputaran transaksi di kawasan menjadi bagian penting dari ekosistem usaha yang dibangun desa.
Pendapatan BUMDes sebesar Rp5,96 miliar juga menunjukkan pentingnya diversifikasi sumber penerimaan. Pengelolaan badan usaha desa idealnya tidak bergantung pada satu jenis layanan karena perubahan jumlah wisatawan dapat memengaruhi pendapatan sewaktu-waktu. Unit usaha pendukung dapat dikembangkan berdasarkan kebutuhan masyarakat dan potensi wilayah, termasuk perdagangan, penyewaan fasilitas, pengelolaan kawasan, hingga layanan yang berkaitan dengan aktivitas wisata. Semakin banyak unit yang produktif, semakin kuat kemampuan BUMDes menjaga arus pendapatan. Namun, ekspansi tetap harus dilakukan berdasarkan perhitungan agar tidak menimbulkan beban operasional yang terlalu besar.
Keberhasilan pengelolaan juga sangat bergantung pada keterlibatan masyarakat Sriwulan. BUMDes pada dasarnya dibentuk bukan hanya untuk menghasilkan keuntungan, tetapi juga menggerakkan perekonomian desa dan meningkatkan manfaat aset yang dimiliki bersama. Warga dapat terlibat sebagai pelaku UMKM, pekerja, penyedia jasa, maupun pemasok kebutuhan kegiatan usaha. Ketika aktivitas ekonomi tumbuh, manfaat pendapatan dapat menyebar lebih luas daripada sekadar masuk ke kas badan usaha. Pola tersebut dapat menciptakan hubungan antara pertumbuhan BUMDes dan peningkatan peluang ekonomi masyarakat.
Pendapatan dalam jumlah miliaran rupiah membutuhkan tata kelola yang semakin profesional. Pencatatan transaksi, laporan keuangan, pengelolaan aset, hingga pembagian hasil usaha harus dilakukan secara transparan agar masyarakat mengetahui perkembangan badan usaha milik desa mereka. Sistem pembayaran dan administrasi yang terdokumentasi juga dapat membantu pengelola mengukur unit usaha mana yang memberikan kontribusi terbesar. Data tersebut kemudian digunakan untuk menentukan investasi dan pengembangan berikutnya. Transparansi menjadi penting untuk menjaga kepercayaan masyarakat terhadap pengelolaan aset desa.
Pengembangan destinasi wisata tetap perlu memperhatikan kualitas fasilitas meskipun tiket dipertahankan murah. Kebersihan, keamanan, area parkir, sanitasi, serta kenyamanan pengunjung dapat menentukan apakah masyarakat bersedia datang kembali. Jumlah kunjungan yang meningkat juga perlu diikuti kemampuan kawasan menampung wisatawan tanpa merusak lingkungan. Sebagian pendapatan dapat diarahkan kembali untuk pemeliharaan dan peningkatan fasilitas sehingga kualitas destinasi terus berkembang. Dengan cara tersebut, harga tiket terjangkau dapat berjalan bersama pelayanan yang semakin baik.
Capaian Sriwulan juga memberikan gambaran bahwa pembangunan ekonomi desa dapat dimulai dari potensi yang berada dekat dengan masyarakat. Tidak setiap desa membutuhkan proyek berskala besar untuk menciptakan sumber pendapatan baru. Identifikasi aset, kebutuhan pasar, kreativitas pengelolaan, dan konsistensi pelayanan dapat menghasilkan nilai ekonomi apabila dikembangkan dengan strategi yang tepat. Pemerintah desa dapat menempatkan BUMDes sebagai penggerak yang menghubungkan potensi lokal dengan aktivitas usaha. Keuntungan kemudian dapat digunakan untuk memperkuat badan usaha sekaligus mendukung manfaat ekonomi yang lebih luas.
Pendapatan BUMDes Sriwulan yang mencapai Rp5,96 miliar di tengah keberadaan wisata bertiket Rp2.000 memperlihatkan bahwa kekuatan ekonomi tidak hanya ditentukan oleh mahalnya harga layanan. Volume kunjungan, keberagaman unit usaha, keterlibatan masyarakat, serta tata kelola menjadi faktor yang dapat menghasilkan pendapatan besar secara kolektif. Tantangan berikutnya adalah menjaga pertumbuhan tersebut tetap sehat sekaligus memastikan manfaatnya dirasakan masyarakat desa. Pengembangan fasilitas dan unit usaha perlu dilakukan tanpa menghilangkan karakter wisata yang terjangkau. Apabila konsistensi pengelolaan dapat dipertahankan, Sriwulan berpeluang menjadi salah satu contoh bagaimana BUMDes mengubah potensi lokal menjadi sumber ekonomi desa yang berkelanjutan.




