Pandeglang, 13 September 2026 – Warga Banten menggelar tradisi larung kerbau ke laut sebagai bagian dari doa dan ikhtiar masyarakat untuk keselamatan lima jurnalis serta tiga kru kapal yang masih hilang di perairan Selat Sunda. Ritual tersebut dilaksanakan ketika operasi pencarian terhadap delapan orang yang hilang saat menjalankan kegiatan peliputan di kawasan Gunung Anak Krakatau masih terus berlangsung. Masyarakat berharap seluruh rombongan dapat segera ditemukan dan kembali berkumpul dengan keluarga masing-masing. Kegiatan diikuti warga dan sejumlah tokoh setempat dengan memanjatkan doa bersama sebelum prosesi larung dilakukan. Tradisi tersebut menjadi bentuk solidaritas masyarakat pesisir terhadap keluarga korban yang telah menunggu kabar selama beberapa hari. Pada saat bersamaan, tim SAR gabungan tetap melakukan pencarian melalui laut, udara, dan penyisiran sejumlah kawasan pesisir.
Prosesi larung kerbau merupakan bagian dari tradisi masyarakat yang memiliki hubungan kuat dengan kehidupan pesisir dan laut. Dalam pelaksanaannya, masyarakat terlebih dahulu menggelar doa bersama untuk memohon keselamatan bagi orang-orang yang masih dicari. Setelah rangkaian tersebut selesai, bagian yang telah dipersiapkan kemudian dilarung menuju laut sebagai bagian dari tradisi. Warga memaknai kegiatan itu sebagai bentuk permohonan dan harapan agar proses pencarian mendapatkan kemudahan. Mereka juga berharap kondisi laut memungkinkan tim SAR bekerja secara optimal. Tradisi tersebut dilaksanakan berdampingan dengan ikhtiar pencarian yang dilakukan aparat dan berbagai unsur penyelamat.
Lima jurnalis dan tiga kru kapal diketahui hilang kontak ketika melakukan perjalanan untuk kegiatan peliputan di kawasan Gunung Anak Krakatau. Rombongan menggunakan kapal cepat sebelum komunikasi dengan mereka terputus di kawasan perairan Selat Sunda. Laporan tersebut kemudian memicu operasi pencarian besar dengan melibatkan Basarnas, TNI Angkatan Laut, kepolisian, dan berbagai unsur lainnya. Lokasi terakhir yang diketahui menjadi titik awal penyisiran sebelum area pencarian diperluas berdasarkan perhitungan arus. Seiring berjalannya waktu, tim harus memperhitungkan kemungkinan pergerakan kapal maupun benda yang terbawa air. Kondisi tersebut membuat operasi berkembang hingga mencakup kawasan perairan yang semakin luas.
Masyarakat pesisir Banten ikut memberikan perhatian besar karena peristiwa tersebut terjadi di wilayah yang selama ini menjadi bagian dari aktivitas mereka sehari-hari. Nelayan memiliki pengetahuan mengenai karakter arus, gelombang, dan perubahan cuaca di Selat Sunda sehingga informasi dari mereka dapat membantu operasi. Warga juga diminta segera melaporkan apabila menemukan benda yang diduga berkaitan dengan kapal maupun rombongan yang hilang. Setiap laporan kemudian perlu diverifikasi oleh petugas sebelum digunakan sebagai petunjuk pencarian. Keterlibatan masyarakat memperluas pengamatan di luar sektor yang dapat dijangkau kapal SAR. Solidaritas tersebut terus terlihat selama operasi berlangsung.
Memasuki hari-hari lanjutan pencarian, kekuatan yang dikerahkan semakin besar. Puluhan kapal dari berbagai instansi telah dilibatkan untuk menyisir sektor laut yang ditentukan berdasarkan evaluasi harian. Dukungan helikopter digunakan untuk melakukan pengamatan dari udara sehingga area yang lebih luas dapat dipantau dalam waktu relatif cepat. Penyisiran juga dilakukan pada pulau dan garis pantai yang diperkirakan berada dalam jalur pergerakan arus. Tim terus memperbarui koordinat pencarian berdasarkan kondisi cuaca, angin, dan gelombang. Seluruh langkah tersebut dilakukan untuk memperbesar kemungkinan memperoleh petunjuk mengenai keberadaan delapan orang yang masih dicari.
Kondisi Selat Sunda menjadi tantangan karena arus di kawasan tersebut dapat berubah dan membawa objek menuju arah yang berbeda. Setelah beberapa hari, benda yang awalnya berada dekat titik hilangnya komunikasi dapat berpindah dalam jarak cukup jauh. Karena itu, tim menggunakan perhitungan pergerakan laut untuk menentukan sektor prioritas. Informasi mengenai arah angin juga digunakan karena benda di permukaan dapat dipengaruhi oleh kombinasi arus dan cuaca. Setiap hari, pola pencarian dapat berubah mengikuti hasil analisis terbaru. Perluasan wilayah menjadi langkah yang diperlukan ketika penyisiran pada sektor sebelumnya belum memberikan hasil yang diharapkan.
Keluarga lima jurnalis dan tiga kru kapal terus menunggu perkembangan operasi dengan harapan seluruh rombongan dapat ditemukan dalam keadaan selamat. Penantian yang berlangsung berhari-hari memberikan tekanan besar sehingga dukungan dari masyarakat memiliki arti penting. Doa bersama telah digelar oleh berbagai komunitas, termasuk kalangan jurnalis di sejumlah daerah. Aparat kepolisian dan pejabat di berbagai wilayah juga turut menyampaikan doa serta dukungan kepada keluarga. Prosesi yang dilakukan warga Banten menambah rangkaian solidaritas tersebut. Masyarakat berharap keluarga tetap memperoleh kekuatan selama menunggu kepastian.
Tim pencarian tetap menekankan bahwa setiap informasi mengenai temuan di laut harus diperiksa sebelum dikaitkan dengan rombongan. Sejumlah benda yang ditemukan sebelumnya telah melalui proses identifikasi dan beberapa di antaranya dipastikan tidak berkaitan dengan para jurnalis maupun kru kapal. Verifikasi diperlukan agar tidak menimbulkan harapan maupun kekhawatiran berdasarkan informasi yang belum pasti. Ciri fisik barang, lokasi penemuan, serta data perlengkapan rombongan dapat digunakan untuk proses pencocokan. Apabila ditemukan petunjuk yang memiliki hubungan kuat, sektor pencarian dapat segera disesuaikan. Ketelitian menjadi penting dalam operasi yang mencakup wilayah sangat luas.
Kegiatan larung kerbau tidak menggantikan upaya teknis pencarian yang dilakukan tim SAR, melainkan menjadi ekspresi budaya dan spiritual masyarakat yang ingin menunjukkan kepedulian. Operasi tetap mengandalkan kapal, helikopter, peralatan navigasi, analisis arus, dan koordinasi berbagai instansi. Warga memandang doa sebagai bagian dari dukungan terhadap seluruh pihak yang sedang berusaha menemukan rombongan. Tradisi lokal tersebut juga menunjukkan kedekatan masyarakat pesisir dengan laut yang menjadi bagian penting kehidupan mereka. Pada saat yang sama, keselamatan personel pencarian tetap menjadi perhatian karena kondisi perairan dapat berubah sewaktu-waktu. Tim harus menyesuaikan operasi dengan situasi cuaca agar pencarian dapat berlangsung aman.
Larung kerbau yang dilakukan warga Banten menjadi bentuk harapan agar lima jurnalis dan tiga kru kapal yang hilang di Selat Sunda segera ditemukan dalam keadaan selamat. Masyarakat memanjatkan doa bersama sekaligus memberikan dukungan kepada keluarga dan tim yang menjalankan operasi pencarian. Di laut, berbagai unsur terus melakukan penyisiran dengan armada yang diperkuat dan wilayah yang diperluas berdasarkan analisis pergerakan arus. Informasi dari nelayan dan warga pesisir juga tetap dibutuhkan untuk membantu menemukan kemungkinan petunjuk baru. Selama belum terdapat kepastian mengenai keberadaan rombongan, harapan keluarga dan masyarakat tetap tertuju pada hasil operasi SAR. Tradisi, solidaritas, dan upaya pencarian teknis berjalan bersama dalam satu harapan agar seluruh orang yang hilang dapat segera ditemukan.






