Jakarta, 31 Oktober 2026 – Menteri Perindustrian (Menperin) Muhammad Sarmuji menegaskan bahwa industri manufaktur Indonesia masih berada dalam fase ekspansi dan tidak sedang mengalami kontraksi sebagaimana anggapan yang berkembang di tengah masyarakat. Pernyataan tersebut disampaikan dalam Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia 2026 di Jakarta, Jumat, 30 Oktober 2026. Sarmuji menjelaskan bahwa sejumlah indikator ekonomi menunjukkan aktivitas industri pengolahan nasional tetap tumbuh positif meskipun menghadapi ketidakpastian ekonomi global. Salah satu indikator utamanya adalah pertumbuhan industri pengolahan nonmigas sebesar 5,32 persen pada triwulan II-2026, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,29 persen. Kondisi tersebut dinilai mencerminkan kemampuan sektor manufaktur mempertahankan perannya sebagai salah satu penggerak utama perekonomian Indonesia. Pemerintah juga melihat masih terbukanya peluang peningkatan produksi melalui optimalisasi kapasitas industri yang saat ini belum dimanfaatkan sepenuhnya. ANTARA News+1
Sarmuji menjelaskan bahwa pertumbuhan industri pengolahan yang melampaui pertumbuhan ekonomi nasional merupakan perkembangan penting dalam struktur perekonomian Indonesia. Pada 2025, sektor industri pengolahan tercatat tumbuh sebesar 5,3 persen, sedangkan pertumbuhan ekonomi nasional berada pada angka 5,11 persen. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi titik perubahan setelah sekitar 12 tahun pertumbuhan industri cenderung berada di bawah laju pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan. Perubahan tersebut menunjukkan bahwa aktivitas manufaktur mulai memberikan dorongan yang lebih kuat terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Meski demikian, pemerintah tetap perlu memastikan bahwa peningkatan produksi berlangsung secara konsisten dan menjangkau lebih banyak subsektor industri. Penguatan daya saing, efisiensi produksi, dan ketersediaan bahan baku menjadi aspek penting untuk menjaga keberlanjutan pertumbuhan. Dengan dukungan kebijakan yang tepat, sektor manufaktur diharapkan mampu memperbesar kontribusinya terhadap perekonomian sekaligus membuka kesempatan kerja baru bagi masyarakat.
Kontribusi industri manufaktur juga terlihat dari besarnya peran sektor tersebut dalam investasi, perdagangan internasional, dan penyerapan tenaga kerja. Berdasarkan data yang dipaparkan Menperin, industri pengolahan menyumbang 38,98 persen terhadap total realisasi investasi nasional. Sementara itu, nilai ekspor industri pengolahan yang disampaikan mencapai 159,55 miliar dolar AS atau setara dengan 82,40 persen dari total ekspor nasional. Besarnya kontribusi tersebut menunjukkan bahwa produk manufaktur masih menjadi komponen penting dalam perdagangan Indonesia dengan berbagai negara. Dari sisi ketenagakerjaan, sektor industri tercatat menyerap sekitar 19,98 juta pekerja hingga Mei 2026. Angka tersebut memperlihatkan hubungan erat antara perkembangan manufaktur dan keberlangsungan pendapatan jutaan rumah tangga. Oleh karena itu, pemerintah memandang peningkatan kapasitas produksi industri sebagai langkah yang tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga berkaitan dengan penciptaan lapangan kerja dan kesejahteraan masyarakat. Bisnis.com
Indikator lain yang memperkuat penilaian pemerintah adalah kenaikan Indeks Kepercayaan Industri (IKI) pada Oktober 2026 menjadi 53,77 dari 51,93 pada September 2026. Nilai indeks di atas 50 menunjukkan bahwa aktivitas industri secara keseluruhan masih berada dalam zona ekspansi. Kementerian Perindustrian mencatat peningkatan tersebut terutama didukung oleh membaiknya pesanan dan aktivitas produksi di sejumlah subsektor. Indeks pesanan pada Oktober mencapai 56,08, sedangkan indeks produksi berada pada level 55,38. Survei kementerian juga menunjukkan bahwa 67,4 persen responden optimistis terhadap prospek kegiatan usaha dalam enam bulan mendatang. Selain itu, sebanyak 80,4 persen responden menyatakan kondisi usahanya membaik atau stabil selama Oktober 2026. Namun, penguatan secara keseluruhan tidak berarti seluruh subsektor mengalami pertumbuhan, karena industri kayu, percetakan, karet dan plastik, serta furnitur masih berada dalam fase kontraksi. ANTARA News
Perkembangan positif juga tercermin dari Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia yang kembali memasuki zona ekspansi pada September 2026. Berdasarkan laporan S&P Global yang dikutip pemerintah, PMI manufaktur meningkat menjadi 52,4 dari posisi 49,8 pada Agustus 2026. Kenaikan tersebut menunjukkan adanya perbaikan aktivitas produksi setelah sektor manufaktur sempat mengalami kontraksi pada bulan sebelumnya. Penguatan didukung oleh peningkatan pesanan baru, membaiknya permintaan ekspor, serta bertambahnya aktivitas pembelian bahan baku oleh perusahaan. Pesanan ekspor juga mencatat pertumbuhan yang kuat, memberikan sinyal adanya peningkatan permintaan dari pasar internasional. Meski demikian, kondisi manufaktur tetap menghadapi tantangan berupa perubahan harga bahan baku, biaya logistik, dan ketidakpastian perdagangan global. Pemerintah menilai perbaikan indikator perlu dijaga melalui kebijakan yang mendukung investasi, efisiensi produksi, dan penguatan pasar dalam negeri. Fiskal Kemenkeu+1
Dalam upaya mempercepat pertumbuhan, Menperin menargetkan tingkat utilisasi kapasitas industri nasional dapat meningkat menjadi sekitar 80 hingga 85 persen dari posisi saat ini sebesar 66,13 persen. Target tersebut didasarkan pada penilaian bahwa masih terdapat kapasitas produksi yang belum digunakan secara optimal oleh perusahaan manufaktur. Peningkatan utilisasi dinilai dapat memberikan tambahan kontribusi terhadap produk domestik bruto tanpa harus sepenuhnya bergantung pada pembangunan fasilitas industri baru. Pemerintah juga melihat besarnya pasar domestik sebagai faktor penting dalam menjaga ketahanan manufaktur menghadapi gejolak ekonomi internasional. Dengan jumlah penduduk sekitar 287,2 juta jiwa, Indonesia memiliki basis konsumen yang besar untuk menyerap berbagai produk industri dalam negeri. Sarmuji menyampaikan bahwa sekitar 78 persen produk manufaktur nasional diserap oleh pasar domestik, sehingga konsumsi masyarakat menjadi salah satu penopang keberlangsungan produksi. Oleh sebab itu, penguatan daya beli, peningkatan kualitas produk lokal, dan perluasan akses pasar menjadi bagian penting dalam strategi mendorong pertumbuhan industri. ANTARA News+1
Ke depan, pemerintah berupaya menjaga momentum ekspansi manufaktur melalui peningkatan produktivitas, penguatan investasi, dan optimalisasi kapasitas industri yang telah tersedia. Menperin menilai bahwa indikator pertumbuhan industri, kepercayaan pelaku usaha, dan aktivitas produksi memberikan dasar untuk melihat sektor manufaktur masih memiliki ruang berkembang. Namun, keberhasilan mempertahankan ekspansi akan bergantung pada kemampuan menghadapi persaingan global, menjaga kelancaran pasokan bahan baku, serta meningkatkan efisiensi operasional perusahaan. Subsektor yang masih mengalami kontraksi juga memerlukan perhatian agar perbaikan kinerja industri dapat berlangsung lebih merata. Dukungan terhadap pengembangan teknologi, peningkatan keterampilan tenaga kerja, dan penguatan rantai pasok domestik menjadi langkah yang relevan untuk memperbesar nilai tambah manufaktur. Pemerintah dan dunia usaha diharapkan dapat memperkuat koordinasi dalam menciptakan iklim investasi yang kondusif sekaligus menjaga permintaan terhadap produk industri nasional. Dengan memanfaatkan potensi pasar dalam negeri dan meningkatkan daya saing ekspor, sektor manufaktur diharapkan terus menjadi salah satu fondasi pertumbuhan ekonomi Indonesia secara berkelanjutan.



