Jakarta, 21 September 2026 – Rasa percaya diri tidak hanya dipengaruhi oleh kemampuan dan pengalaman pribadi, tetapi juga oleh lingkungan sosial yang dihadapi setiap hari. Interaksi dengan orang tertentu terkadang membuat seseorang mulai mempertanyakan keputusan, kemampuan, bahkan penilaiannya sendiri. Kondisi tersebut bisa muncul secara perlahan sehingga tidak selalu mudah dikenali sejak awal. Kritik yang terus-menerus, perbandingan, atau respons yang meremehkan dapat memengaruhi cara seseorang melihat dirinya. Meski demikian, tidak setiap kritik atau perbedaan pendapat berarti hubungan tersebut tidak sehat. Hal yang perlu diperhatikan adalah pola interaksi yang terjadi secara berulang dan dampaknya terhadap kondisi emosional.
Tipe pertama adalah orang yang terus-menerus meremehkan pencapaian orang lain. Ketika seseorang berhasil mendapatkan pekerjaan baru, menyelesaikan proyek, atau mencapai target pribadi, mereka mungkin selalu menemukan alasan untuk mengecilkan pencapaian tersebut. Kalimat seperti “itu cuma kebetulan” atau “siapa pun sebenarnya bisa melakukannya” dapat terdengar sederhana, tetapi jika berulang kali diterima bisa memengaruhi kepercayaan diri. Seseorang akhirnya mulai mempertanyakan apakah keberhasilannya memang berasal dari kemampuan yang dimiliki. Apresiasi terhadap diri sendiri pun perlahan berkurang. Dalam hubungan yang sehat, kritik tetap dapat diberikan tanpa harus menghapus nilai dari pencapaian seseorang.
Perilaku meremehkan juga dapat muncul dalam bentuk perbandingan terus-menerus. Apa pun yang dilakukan seseorang selalu dibandingkan dengan teman, saudara, rekan kerja, atau figur lain yang dianggap lebih berhasil. Perbandingan semacam ini dapat menciptakan standar yang sulit dipenuhi karena setiap individu memiliki keadaan, kesempatan, dan perjalanan berbeda. Jika berlangsung lama, seseorang dapat merasa bahwa pencapaiannya tidak pernah cukup. Fokus kemudian berpindah dari perkembangan pribadi menuju kebutuhan mendapatkan pengakuan dari orang lain. Akibatnya, penilaian terhadap diri sendiri semakin bergantung pada respons lingkungan.
Tipe kedua adalah orang yang sering membuat seseorang mempertanyakan ingatan atau persepsinya sendiri. Dalam pola manipulasi tertentu yang kerap disebut gaslighting, seseorang dapat menyangkal kejadian, mengubah cerita, atau terus menyatakan bahwa pihak lain terlalu sensitif dan salah memahami situasi. Satu perbedaan ingatan tentu tidak otomatis berarti gaslighting karena manusia memang dapat mengingat sebuah kejadian secara berbeda. Persoalan muncul ketika penyangkalan dan manipulasi dilakukan secara konsisten untuk membuat orang lain kehilangan kepercayaan terhadap penilaiannya sendiri. Seseorang yang mengalaminya dapat semakin sering meminta validasi sebelum mengambil keputusan. Dalam jangka panjang, pola tersebut dapat membuatnya merasa tidak yakin terhadap pikiran dan emosinya sendiri.
Dampaknya dapat terlihat melalui kebiasaan mempertanyakan keputusan sederhana. Seseorang mungkin merasa harus memastikan pendapatnya kepada orang lain sebelum bertindak karena takut penilaiannya salah. Ia juga dapat terlalu sering meminta maaf meskipun belum tentu melakukan kesalahan. Dalam beberapa situasi, korban bahkan mulai menyimpan bukti percakapan karena khawatir kembali dibuat ragu terhadap apa yang sebenarnya terjadi. Situasi seperti ini dapat muncul dalam hubungan romantis, pertemanan, keluarga, maupun lingkungan kerja. Karena itu, konteks dan pola perilaku perlu diperhatikan sebelum memberikan label tertentu kepada seseorang.
Tipe ketiga adalah orang yang hanya memberikan dukungan ketika seseorang mengikuti keinginannya. Mereka dapat bersikap sangat hangat ketika pendapatnya disetujui, tetapi berubah dingin, menjauh, atau memberikan tekanan ketika orang lain mengambil keputusan berbeda. Pola tersebut membuat penerimaan terasa seperti sesuatu yang harus diperoleh dengan cara memenuhi harapan mereka. Akibatnya, seseorang dapat takut menetapkan batasan atau mengatakan tidak karena khawatir kehilangan hubungan. Keputusan pribadi kemudian dibuat bukan berdasarkan kebutuhan sendiri, melainkan demi menghindari konflik atau penolakan. Jika berlangsung terus, kebiasaan tersebut dapat mengikis rasa percaya terhadap kemampuan mengambil keputusan secara mandiri.
Dukungan yang sehat seharusnya tetap memberikan ruang bagi perbedaan. Teman, pasangan, keluarga, atau rekan kerja dapat tidak setuju tanpa harus menggunakan rasa bersalah sebagai alat untuk mengendalikan keputusan. Sebaliknya, hubungan menjadi tidak seimbang ketika salah satu pihak merasa harus selalu menyesuaikan diri agar tetap diterima. Penting pula membedakan kompromi dengan kehilangan batas pribadi. Kompromi melibatkan kedua pihak, sedangkan pola pengendalian cenderung membuat hanya satu pihak yang terus mengalah. Mengenali perbedaan tersebut dapat membantu seseorang menilai kualitas hubungan dengan lebih objektif.
Menghadapi pola hubungan semacam itu tidak selalu berarti harus langsung memutus komunikasi. Langkah pertama dapat dilakukan dengan memperhatikan bagaimana perasaan muncul setelah berinteraksi dengan seseorang. Jika hampir setiap percakapan membuat diri merasa tidak mampu, bersalah, atau terus mempertanyakan penilaian sendiri, pola tersebut layak diperhatikan lebih jauh. Menuliskan kejadian tertentu juga dapat membantu melihat apakah perilaku tersebut benar-benar berulang atau hanya terjadi sesekali. Membicarakan pengalaman dengan orang tepercaya dapat memberikan perspektif tambahan. Dalam hubungan yang memungkinkan komunikasi terbuka, batasan juga dapat disampaikan secara jelas dan spesifik.
Menetapkan batasan bukan berarti menolak seluruh kritik. Kritik konstruktif justru dapat membantu seseorang berkembang ketika disampaikan dengan jelas, berfokus pada perilaku, dan tidak menyerang harga diri. Perbedaannya terletak pada apakah komunikasi memberikan kesempatan untuk memperbaiki sesuatu atau justru membuat seseorang merasa selalu tidak cukup baik. Hubungan sehat juga memungkinkan seseorang mempertahankan pendapatnya tanpa takut mendapatkan hukuman emosional. Ketika batasan berulang kali diabaikan, mengurangi intensitas interaksi dapat menjadi salah satu pilihan. Bantuan profesional juga dapat dipertimbangkan apabila hubungan tersebut menimbulkan tekanan emosional yang berat atau mengganggu aktivitas sehari-hari.
Pada akhirnya, keraguan terhadap diri sendiri merupakan pengalaman yang dapat dialami siapa saja dan tidak selalu disebabkan oleh orang lain. Evaluasi diri bahkan diperlukan untuk belajar dari kesalahan dan membuat keputusan yang lebih baik. Namun, situasinya berbeda ketika keraguan tersebut terus dipicu oleh pola komunikasi yang meremehkan, memanipulasi persepsi, atau menjadikan penerimaan sebagai alat pengendalian. Mengenali pola tersebut membantu seseorang menentukan batas antara kritik yang bermanfaat dan interaksi yang justru mengikis kepercayaan diri. Hubungan yang sehat tidak mengharuskan seseorang selalu benar atau selalu disetujui. Sebaliknya, hubungan yang baik memberikan ruang untuk berbeda, melakukan kesalahan, berkembang, dan tetap menghargai diri sendiri.




